Tinggalkan komentar

Analisis Kasus Pembubaran Diskusi Buku Irshad Manji

guna memenuhi tugas terstruktur 1;

         Terkait analisis ini penulis mencoba berpendapat dari segi normatif

        Awalnya terjadi pembubaran secara paksa terhadap diskusi yang dilangsungkan oleh Irshad Manji di LKis pada hari rabu tanggal 09-05-2012. Motif dari pembubaran tersebut adalah pendapat yang disampaikan oleh irshad manji dalam buku yang ditulinya disinyalir telah menodai salahsatu agama terbesar di Indonesia yaitu islam. Irshad manji merupaka penulis sebuah buku yang notabennya mengulas dari segi pendapatnya mengenai hal – hal yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat maupun sebagian besar agama. Alasannya, ia merupakan salahsatu pengarang buku yang mengungkapkan gagasan mengenai hal – hal seperti lesbian, kaidah isi al-Quran, hakekat Nabi Muhammad SAW yang kemudian ia membuat sebuah pemikiran yang bertentangan dengan kaidah yang sudah ada.

            Proses kejadian pembubaran berlangsung ditengah – tengah forum diskusi yang dipimpin oleh panitia dengan waktu yang telah diatur maupun acara yang telah dipersiapkan. Saat kejadian pembubaran berlangsung dengan anarkhis yang menyebabkan korban baik dari pihak panitia maupun peserta diskusi. Pada awal diskusi berlangsung sebenarnya tidak sampai terjadi kisruh yang mendalam, maupun kejadian yang dianggap kekerasan. Namun kondisi berubah menjadi mengkhawatirkan ketika saat narasumber yang bernama Irshad Manjid yang melakukan sesi tanya jawab. Pada pertanyaan yang akan dijawab oleh narasumber yaitu pertanyaan yang ketiga dari peserta diskusi, hingga akhirnya suasana berubah ricuh yang berbentuk pemukulan sebagai akibat ulah para anggota organisasi masyarakat.

            Selanjutnya berdasarkan peristiwa tersebut dapat diketahui adanya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh sekelompok organisasi masyarakat (ormas), alasannya pihak sekelompok yang mengatasnamakan bagian dari ormas telah melakukan pemukulan terhadap peserta maupun panitia diskusi. Meskipun alasan dari ormas tersebut adalah pemikiran yang tidak benar dari Irshan Manji namun hal tersebut tidak dibenarkan dengan undang – undang maupun kovenan internasional.  Disisi lain, Irshad Manji memaparkan pemikiran yang tidak bersinggungan dengan suatu sekelompok agama sehingga hal ini perlu dikaji apakah Irshad Manji ikut juga melakukan pelanggaran HAM terhadap keyakinan orang lain.

            Membahas lebih lanjut mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam kasus tersebut sebaiknya terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan pelanggaran HAM. Pelanggaran HAM menurut pasal 1 ayat 6 Undang – undang no 39 tahun 1999 tentang HAM menyebutkan bahwa setiap perbuatan seseorang atau sekelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang – undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Dari pengertian diatas selanjutnya maka dapat dikaitkan dengan kasus Irshad Manji yang pada dasarnya siapakah yang melakukan pelanggaran HAM, apakah Irshad Manji atau sekelompok ormas, atau kedua – duanya.

            Selanjutnya perlu untuk menganalisa apakah tindakan mengeluarkan pendapat dari Irshad Manji telah dibenarkan oleh undang – undang, sehingga permasalahan tersebut akan menjadi jelas. Irshad Manji merupakan orang yang mengemukakan pendapat melalui buku – bukunya yang salahsatunya ALLAH, LOVE, LIBERTY. Pendapat yang menjadi kontroversial dikalangan masyarakat islam saat ini adalah bahwa ia mengemukakan pendapat yang disinyalir mengenai atau melukai nilai – nilai agama islam. Salahsatu alasan yang menjadi dasar utama dari akibat munculnya perselisihan antara organisasi masyarakat dan pihak Irshad Manji adalah bahwa pendapatnya mengenai Nabi Muhammad telah melakukan suatu kebohongan dalam ayat – ayat al-quran.

            Secara normatif jika dilihat dari undang – undang no 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Irshad Manji dinilai melanggar pasal 23 ayat 2 yang berbunyi, “setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai – nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan negara. Pasal tersebut menjamin hak setiap orang untuk berpendapat sesuai dengan aspirasinya namun tidak berarti harus mengabaikan hak asasi orang lain, sehingga Irshad Manji mendapatkan jaminan dari pasal tersebut, akan tetapi ia melupakan nilai – nilai agamanya padahal seharusnya ia terlebih dahulu mengeluarkan suatu bukti – bukti yang kuat daripada suatu pendapat saja. Masyarakat komunitas islam tentu dalam hal ini merasa telah diganggu dengan pendapat Irshad Manji.

            Kemudian selain pendapat dari Irshad Manji yang disinyalir melanggar Hak Asasi Manusia terdapat pula perilaku yang dilakukan oleh orang – orang yang mengaku anggota masyarakat. Perilaku yang dimasudkan adalha orang – orang tersebut telah melakukan suatu perbuatan yang menimbulkan rasa sakit sehingga dapat dikatakan suatu penyiksaan. Penyiksaan dalam kasus tersebut adalah berupa pemukulan terhadap peserta diskusi maupun pihak panitia sehingga para korban harus mengalami kerugian materiil amupun kerugian immateriil.

            Apabila dikaitkan dengan undang – undang no 39 tahun 1999 maka perbuatan para pelaku tindakan pemukulan tersebut dapat dikenakan pasal 33 ayat 1 yang berbunyi, setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya.  Dengan demikian sangat jelas para pelaku tidak dapat dibenarkan atas tindakannya karena setiap manusia telah dijamin agar bebas dari penyiksaan dan perlakuan kejam, seperti yang terdapat dalam kasus tersebut terdapat tujuh korban kejadian tindakan kekerasan tersebut. Adanya pasal tersebut menjadi sebuah hak bagi korban dan menjadi kewajiban bagi orang lain untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.

            Penjelasan diatas menyebabkan bahwa kedua belah pihak telah melakukan pelanggaran HAM yang sangat jelas terjadi., sehingga aparatur negara harusnya lebih tanggap dalam melakukan penegakkan hukum. Sebagai penulis, kasus Irshad Manji  merupakan pelanggaran HAM oleh pihak Irshad Manji sendiri maupun pihak yang melakukan penyerangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: